Ketua Badan Diplomatik TPNPB & OPM Mengutuk Keras Perjanjian New York 1962 dan 17 Agustus 1945; Mengajak rakyat Papua Barat dan rakyat Nusantara bakar Bendera Merah Putih.

Silahkan baca selengkapnya dibawah ini.

Kepada Yang Terhormat : Rakyat Papua Barat dan Rakyat Nusantara Di tempat

Hal: Himbauan Umum ”Mengutuk Keras Perjanjian New York dan 17 Agustus”

Yang Terhormat Segenap Rakyat,

Kami mengutuk keras Tanggal 15 Agustus sebagai hari Perjanjian New York, dan 17 Augustus sebagai hari kemerdekaan Indonesia, yang mana telah menghianati nasip kemerdekaan kami Bangsa Papua.

Perjanjian New York yang ditanda tangani oleh kedua Bangsa Penjajah, Belanda dan Indonesia yang di fasilitasi oleh Amerika Serikat itu adalah perjanjijan genosida terhadap Rakyat Bangsa Papua. Karena Perjanjian New York yang disepakati 15 Agustus 1962 adalah pelanggaran aturan hukum internasional dan pelanggaran terhadap Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa terhadap hak-penentuan sendiri, karena tidak melibatkan Wakil-wakil Papua Barat yang ada dalam Badan Representasi Bangsa Papua yakni Nieuw Guinea Raad (NGR).

Indonesia membawa perwakilan Papua pro Indonesia sementara Belanda membawa perwakilan Papua pro Belanda, sekalipun demikian mereka itu belum dilibatkan dalam negosiasi perjanjian kotor itu. Sebenarnya Orang-orang Papua yang dibawa adalah representasi dari badan NGR yang sudah terbentuk Tanggal 5 April 1961 namun mereka itu di tipu oleh kedua negara sehingga perjanjiannya terjadi antara kedua negara penjajah. Kenapa pentingnya melibatkan perwakilan resmi dari NGR, karena NGR ini terbentuk berdasarkan amanat Piagam PBB pasal 73 ayat (b) tentang institusi politik dan di ijinkan oleh Belanda mempersiapkan manifesto politik hingga merayakan hari Kemerdekaan Bangsa Papua Barat pertama Tanggal 1 Desember 1961 yang telah disaksikan dan diakui oleh Penjajah Belanda Sendiri dan sejumlah perwakilan negara yaitu dua anggota Hak Veto PBB  Inggris dan Francis, termasuk Australia dan Selandia Baru. Keterlibatan sejumlah negara dalam perayaan tanggal 1 Desember adalah sebagai bentuk pengakuan legitimasinya. Perjanjian itu harusnya terjadi diantara tiga partai yakni Indonesia, Belanda dan Papua Barat (NGR).     

Bangsa Papua menyadari 17 Agustus adalah hari kolonial Bangsa Indonesia. Deklarasi itu terjadi di Pulau Jawa, bukan Pulau Papua, bukan juga Pulau Sumatera, Kalimantan, Bali, Maluku, Nusa Tengara Timur (NTT), dan Pulau sekitarnya yang Indonesia klaim lewat simbol Bineka Tunggal Ika itu. Deklarasi itu tidak mengikat wilayah Papua Barat kedalam hukum teritorial kolonial NKRI. Secara fakta Hukum Internasional tidak membenarkan deklarasi 17 Agustus mengikat wilayah Papua Barat. Kemerdekaan Indonesia itu diakui oleh PBB ketika Belanda mengakuinya Tahun 1949 yang wilayahnya tidak termasuk West Nieuw Guinea.

Status politik dan hukum West Nieuw Guinea itu sudah diakui oleh Belanda sebelum setahun Deklarasi Unilateral 17 Agustus.  Tahun 1944, Belanda mengakui wiayah West Nieuw Guinea sebagai status non-self governing territory atau daftar dalam status wilayah belum berpemerintahan sendiri yang mana dipersiapkan oleh badan dunia PBB untuk dimerdekakan. 

Bangsa Papua  mengakui sejarah politik bangsa-bangsa yang ada di Nusantara yang  masih memiliki kesempatan merebut identitasnya sendiri sebagai bangsa-bangsa yang telah dijanjikan oleh Belanda memberikan kemerdekaan. Itulah landasan sejarah bagi semua pulau yang ada di Nusantara. Jangan pernah mengakui sejarah palsu ”bineka tunggal ika” dan sejarah 17 agustus. Ayo, kita bergandeng tangan maju bersatu menghapuskan kolonialisme Indonesia dari Tanah Sucinya masing-masing  mulai dari Tanah Aceh sampai di Tanah Papua. Generasi mudah harus menjadi lebih kritis dan cerdas dalam melawan arus kolonialisme dan kapitalisme global. Harus berani maju melawan, Allah Bangsa dan Leluhur moyang disetiap bangsa selalu memayungi dalam setiap arah dan gerakan perjuangan anak bangsa.

Bangsa Papua adalah ”Your Big Brother”. Kini your big brother sudah mengangkat senjata di Hutan Papua melawan Tentara Kolonial NKRI, your big brother sudah mengangkat megaphone untuk yang perjuangan sipil dikota. Mereka sedang berusaha menghancurkan virus bineka tunggal ika itu, karena itu adalah semboyang penghancur bangsamu yang suci dan mulia, yang adalah hak warisan nenek moyangmu dan bagi warisan masa depan generasi penerus bangsamu.

Indonesia telah menjual Tanah dan sumber kekayaan kepada bangsa-bangsa besar penghisap darah kaum tertindas. Indonesia sudah menghancurkan kekuatan kepercayaan asli dan merusak bumi di setiap Pulau Nusantara, Indonesia telah memusnahkan seluruh mahkluk alam semesta yang ada di setiap Pulau Nusantara ke tangan kapitalis global melalui berbagai cara. Salah satu caranya adalah Indonesia bergabung dengan negara-negara G20, dalam pertemuan bulan November 2022 di Bali, kelompok orang-orang terkaya  di dunia yang Haus dan Rakus harta kekayaan milik bangsa-bangsa kecil pun juga telah Indonesia ijinkan untuk berinvestasi dan membeli pulau-pulai di Nusantara. Dengan aksi-aksi kelompok kapitalis global, alam dimusnahkan dan menenggelamkan pulau yang Anda hidup ini.  

Harapan Bagi Bangsa Papua Barat

Tanggal 1 Desember adalah hari kelahiran Bangsa Papua. Kemerdekaan secara politik dan hukum telah terjadi dan sudah diakui oleh Bangsa Penjajah dan PBB karena peristiwa sejarah itu terjadi sesuai dengan Piagam PBB dan hukum Internasional. Pendirian lembaga representasi politik yakni NGR itu telah terjadi sesuai pasal 73 piagam PBB serta kehendak rakyat pemilik tanah air dan negara Belanda mengakuinya. Oleh sebab itu, Piagam PBB dan Hukum Internasional mengakui legalitas tertinggi terhadap perjuangan NGR sehingga masih memiliki kekuasaan tertinggi menyelenggarakan perjuangan mendukung semua resolusi-resolui PBB terkait dengan hak- hak hukum atas nasip penentuan sendiri dan program penghapusan kolonialisme dunia.

Walaupun Belanda, Indonesia, Amerika dan PBB lalai menjamin Mandat Dunia namun Lembaga Embrio Bangsa Papua Barat yakni  NGR masih eksis di pertahankan oleh anak-anak mudah kaum terdidik, dan akan dilanjutkan dengan perjuangan babak baru. Oleh karena itu tidak ada istilah bahwa NGR sudah berakhir dengan kepulangan Belanda, tidak ada istilah bahwa legalitas NGR hanya sudah sampai di Belanda. Selagi ada perpanjangan kolonialisme dari Belanda ke Indonesia, sejarah 1 December 1961 pernah terjadi diatas Tanah Papua, setiap tanggal 1 dirayakan sebagai hari kemerdekaan Bangsa Papua Barat, Bendera Bintang Kejora masih berkibar, nama Bangsa Papua di gaungkan serta nama teritorial (negara) Papua Barat dipakai dalam perjuangan, maka kedaulatan dan kemerdekan lewat lembaga NGR adalah SUDAH SYAH dan sedang diperjuangakan oleh Rakyat Semesta Papua Barat.

Oleh karena itu kami menghimbau kepada Rakyat Papua Barat dan simpatisan agar tidak merayakan Tanggal 17 Agustus, Tanggal itu adalah Tanggal terkutuk bagi Bangsa Papua. Jangan menodai jiwa yang suci dan murni dengan bendera merah putih. 10 juta bendera Merah Putih yang dikirimkan oleh Presiden Jokowi harus di bakar oleh seluruh lapisan rakyat Bangsa Papua Barat. Bendera Merah Putih itu harus dikutuk, karena itu Bendera pemusnah Bangsa Papua, ini Bendera Neraka.  

Bagi Rakyat Nusantara

Rakyat Aceh, Rakyat Bali, Rakyat Kalimantan, Rakyat Maluku, Rakyat NTT, Rakyat Sulawesi dan rakyat dari wilayah yang ada di Pulau Sumatera. Kita Harus mengakui sejarah nenek moyang, bahasa nenek moyang, ikatan sosial budaya sebagai satu kesatuan bangsa yang ada dari turun temurun.  Kami menghormati nilai- nilai leluhur asli anda, nilai-nilai religi dan kultur sebagai unsur pembentuk karakter setiap Bangsa, yang kita harus mampu mewujud-nyatakan dalam konsep berbangsa dan bernegara sendiri terpisah dari NKRI. Rakyat dari semua Pulau yang disebutkan diatas bahwa kami menghormati suara suci dari hati sanubari kalian yang terpendam itu. Suara hati selalu berbisik akan kecintaan terhadap tanah airmu, tanah tumpah daráh nenek moyangmu, tanah yang memberi kehidupan anak cucumu.

Jangan biarkan pencuri dan penghancur NKRI masuk memusnahkan seluruh tatanan hidup anda, jangan biarkan bendera merah putih berkibar diatas penderitaan rakyat anda, jangan biarkan karena kulitnya hampir sama, rambutnya hampir sama, jangan biarkan karena satu bahasa kolonial Indonesia, jangan biarkan karena masih mengunakan mata uang rupiah, jangan biarkan karena saudara sekeluarganya pejabat, militer dan polisi NKRI. Namun kalian adalah satu bangsa yang berbeda sejarah nenek moyang, sejarah politik Indonesia, Hukum Internasional menguatkan anda untuk tetap berjuang meneruskan sisa-sisa perjuangan yang telah diperjuangkan oleh generasi tua anda.     

Kami Bangsa Papua adalah Bangsa yang bermartabat dan menjunjung tinggi niai-nilai kemanusiaan dan kesetaraan. Kami selalu memotivasi anda atas dasar keadilan dan pelurusan sejarah bangsa anda yang pernah diperjuangkan oleh pendahulunya. Semoga saatnya untuk kalian bangkit bersama Rakyat Papua Barat menghancurkan Kolonial NKRI.

Salam Revolusi Demi Kemerdekaan Sejati Bagi Setiap Bangsa Yang Ada Di Nusantara.

Tertanda Tangan

Akouboo Amatus Douw

Chairman of Diplomatic Council

Free Papua Movement / TPNPB-OPM

Australia, 15 Agustus 2022

Tertanda tangan

Akouboo Amatus Douw

Chairman of Diplomatic Council

Free Papua Movement / TPNPB-OPM

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation ullamco laboris nisi ut aliquip ex ea commodo consequat. Duis aute irure dolor in reprehenderit in voluptate velit esse cillum dolore eu fugiat nulla pariatur. Excepteur sint occaecat cupidatat non proident, sunt in culpa qui officia deserunt mollit anim id est laborum.Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation ullamco laboris nisi ut aliquip ex ea commodo consequat.
Share This :

Leave a Reply

Your email address will not be published.